Tetap Kena COVID-19 Walau Telah Divaksinasi? Begini Penjelasannya

Tetap Kena COVID-19 Walau Telah Divaksinasi, vaksinasi covid-19, virus covid-19
WartaBerita.Net — Ilustrasi: Vaksinasi COVID-19. (Kru pewarta)

WartaBerita.Net | JAKARTA — Mungkin banyak yang bertanya, mengapa seseorang tetap kena COVID-19 walau telah divaksinasi? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu alasan seseorang memilih menghindari vaksinasi bila diajak atau ditanya apakah dirinya bersedia mendapatkan vaksinasi COVID-19 itu.

Ramai jadi perbincangan di masyarakat soal pasien positif COVID-19 walau sudah divaksinasi, baik setelah menerima dosis pertama vaksinasi COVID-19, bahkan setelah menerima suntikan vaksin COVID-19 dosis kedua.

Salah satu contohnya yaitu Perdana Menteri Pakistan positif COVID-19 walaupun sudah menerima vaksinasi penyuntikan pertama. Di  dalam negeri pun, sudah ada beberapa laporan mengenai orang-orang tetap kena COVID-19 walau telah divaksinasi. Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan, kenapa hal ini masih bisa terjadi?

7 Alasan tetap kena COVID-19 walau telah divaksinasi

data yang sempat dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) terkait infeksi Covid-19 setelah divaksinasi.

“Data menunjukkan bahwa sekitar 0,7 persen hingga 0,8 persen orang yang sudah mendapat vaksin Covid-19 dosis lengkap masih dapat terinfeksi Covid-19,”

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini beberapa penjelasan tentang mengapa seseorang tetap kena COVID-19 walau telah divaksinasi beberapa waktu sebelumnya.

Tetap Kena COVID-19 Walau Telah Divaksinasi, vaksinasi covid-19, virus covid-19
WartaBerita.Net — Ilustrasi: Vaksinasi COVID-19. (Kru pewarta)
1. Efikasi Vaksin COVID-19

Seseorang bisa tetap kena COVID-19 walau telah divaksinasi, karena tingkat efektivitas atau efikasi vaksin COVID-19 tidak sepenuhnya 100 persen efektif dalam mencegah virus corona.

Perlu diketahui, vaksin COVID-19 yang ada di dunia sekarang ini tidak ada yang efikasinya 100 persen. Sebut saja vaksin Corona buatan Pfizer dan Moderna. Keduanya diketahui memiliki tingkat efektivitas di atas 90 persen. Tapi, tetap tidak dapat memberikan perlindungan sampai dengan 100 persen alias perlindungan penuh.

Angka efikasi yang ada menunjukkan persentase rendahnya kemungkinan tertular dibandingkan mereka yang tidak divaksinasi. Jadi, jika efikasi di bawah 100 persen seperti yang ada sekarang ini maka pasti akan ada saja kemungkinan seseorang tetap dapat tertular dan jadi sakit walau sudah dapat vaksinasi secara lengkap.

Itu berarti tidak ada vaksin yang 100 persen dapat memberikan jaminan seseorang yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19 tidak akan bisa sakit sama sekali. Tidak ada perlindungan yang 100 persen memberikan proteksi kepada tubuh.

2. Tubuh butuh waktu membentuk antibodi

Melansir keterangan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS), perlu waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu untuk antibodi yang terbuat dari vaksin Corona dapat terbentuk sempurna. Oleh karena itu, bisa saja orang terkena COVID-19 sebelum antibodi terbentuk.

Berdasarkan keterangan CDC, tubuh membutuhkan waktu untuk merespons vaksin yang telaha dimasukkan ke dalam tubuh dan mengembangkan respons kekebalan.

Contohnya, vaksin COVID-19 buatan Pfizer baru efektif 52 persen mencegah virus corona setelah 14 hari sejak menerima dosis pertama.

3. Kemampuan orang berbeda-beda

Imunitas yang terbentuk pasca vaksin setiap orang berbeda. Hal ini dipengaruhi kondisi tubuh setiap orang yang berbeda seperti kepemilikan penyakit penyerta seperti jantung, stroke, diabetes, kanker, autoimun dan sebagainya.

Itulah sebabnya tetap wajib menjalankan protokol 5M, yaitu memakai masker, rajin mencuci tangan, selalu menjaga jarak, senantiasa menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas atau bepergian.

Tetap Kena COVID-19 Walau Telah Divaksinasi, vaksinasi covid-19, virus covid-19
WartaBerita.Net — Ilustrasi: Vaksin COVID-19. (Kru pewarta)
4. Vaksin COVID-19 belum pasti dapat cegah infeksi, tapi dapat cegah sakit parah

Vaksin COVID-19 masih belum jelas apakah bisa efektif mencegah infeksi. Namun, vaksin tetap dapat mencegah keparahan penyakit, bila terinfeksi.

Pihak Departemen Kebijakan Kesehatan dari Vanderbilt University dan departemen farmakologi dan ilmu molekuler di John Hopkins University sepakat bahwa vaksin ini benar-benar bisa mencegah penyakit dan bahkan keparahan penyakit.

Dikatakan, angka kemanjuran tidak menjadi jaminan efektivitas sebuah vaksin COVID-19, karena seseorang masih bisa terkena COVID-19. Namun, berdasarkan indikasi yang muncul, kasus-kasus positif COVID-19 dari orang telah divaksinasi tidak begitu parah dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

Indikasi tersebut memperlihatkan bahwa vaksinasi COVID-19 tetap penting untuk dilakukan.

Oleh karena itu, orang yang sudah divaksin tetap perlu memakai masker. Pasalnya, mereka tetap bisa terkena COVID-19, namun mungkin tak bergejala dan bisa menularkan virus.

5. Terkena infeksi COVID-19 sebelum vaksinasi

Seseorang dapat tetap kena COVID-19 walau telah divaksinasi, karena sempat terinfeksi virus beberapa hari sebelum penyuntikan vaksin. Temuan tersebut terjadi pada beberapa tenaga kesehatan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh CDC.

Temuan itu memperlihatkan bahwa 22 dari 4.081 tenaga kesehatan yang disuntik vaksin COVID-19 dinyatakan positif setelah memperoleh dosis pertama. Studi berdasarkan temuan itu menunjukkan bahwa para tenaga kesehatan itu telah terkena COVID-19 sebelum mendapatkan dosis pertama.

Para tenaga kesehatan itu telah terinfeksi COVID-19 beberapa hari sebelum vaksinasi, namun virus masih dalam tahap masa inkubasi.

6. Mutasi virus COVID-19

Kekhawatiran soal mutasi virus COVID-19 dapat mempengaruhi efektivitas vaksin telah disuarakan oleh para pakar sebelumnya. Contoh terbaru yaitu munculnya varian baru Corona di Inggris. Dilaporkan, B117 yang merupakan varian COVID-19, kembali bermutasi.

Mutasi baru ini dinamakan E484K. Virus hasil mutasi ini dikatakan dapat lolos dari perlindungan antibodi hasil vaksinasi COVID-19. Lebih lanjut, dikatakan bahwa mutasi tersebut sama seperti virus yang ditemukan pada varian asal Afrika Selatan dan Brasil.

Perkembangan terbaru, disebut-sebut mutasi virus COVID-19 yang berkembang di India lebih berbahaya dibanding yang tersebar di Uni Eropa.

Hasil mutasi virus COVID-19 tersebut dapat mempengaruhi kekebalan dari vaksin. Dan juga lebih mungkin menyebabkan infeksi ulang kepada orang yang sebelumnya telah terinfeksi.

7. Terinfeksi strain baru COVID-19

Vaksin COVID-19 yang ada saat ini tidak bisa membentuk kekebalan terhadap semua strain. Saat ini telah muncul berbagai strain virus COVID-19. Akibatnya, strain-strain baru itu tidak bisa ditangkal oleh vaksin tertentu.

Sebut saja strain dari Afrika Selatan yang dikatakan tidak dapat ditangkal oleh vaksin buatan AstraZeneca, namun tetap efektif menggunakan vaksin buatan Pfizer. [WB]